preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Haedar Nashir: Semangat Nir Pamrih Itu Tidak Gampang

Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat menjawab pertanyaan para wartawan terkait sikap yang diambil Muhammadiyah terhadap bencana akhir-akhir ini. (mirza/IMMRenaissance)

IMM-RENAISSANCE.OR.ID – Saat ini, membangun semangat kebersamaan tidaklah mudah. Mengingat ganasnya virus egoistik menggerogoti. Orang-orang lebih mementingkan dirinya sendiri. Kepentingan-kepentingan pamrih ini tak hanya menjangkiti masyarakat, namun juga elit bangsa.

Hal tersebut disampaikan Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam sambutannya pada pembukaan Jambore Nasional Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di Hall Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (1/12).

Bangsa ini dibangun dengan semangat juang dan jiwa tolong-menolong yang tinggi. Menjadi masalah apabila masyarakat Indonesia mulai kehilangan jiwa yang telah diwariskan oleh barisan pendahulu.

Dewasa ini tantangan umat islam makin berat. Semakin banyak saja orang-orang yang tak acuh dengan kondisi sosial di sekitarnya. “Jangankan peduli, untuk saling tegur sapa saja sekarang ini sudah menjadi hal yang ragu untuk dilakukan,” ujar Haedar.

Tembok-tembok dan pagar rumah dibangun tinggi-tinggi, alasannya demi menjaga keamanan. Lunturnya rasa saling percaya dan peduli, benar-benar menjadi masalah besar bagi pejuang-pejuang nir pamrih (tanpa pamrih).

“Karena itu, ini menjadi tugas moral politik kita Muhammadiyah, bagaimana semangat berbagi dan peduli nir pamrih, kerelawanan, juga harus menjadi spirit para elit bangsa sehingga mengurus bangsa ini dengan tulus,” harapnya.

Haedar juga mengajak para peserta Jambore Nasional MDMC untuk meneladani gerakan Muhammadiyah di masa awal berdiri. Saat itu Gunung Kelud meletus. Muhammadiyah kemudian mendirikan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO) yang kemudian pada tahun 1980-an diganti menjadi Pembina Kesejahteraan Umat (PKU).

Kader-kader Muhammadiyah juga perlu menjadi seorang kader yang multi-peran. Ia bisa menjadi apa dan siapa saja demi kesejahteraan umat.

“Semangat dakwah adalah bagian dari peran kita Muhammadiyah. Sehingga dimanapun kita berada, dengan peran apapun, semuanya adalah dakwah yang membawa rahmat bagi semesta alam,” pesannya pada hadirin.

Diakhir sambutannya, Haedar banyak menaruh harap kepada bangsa Indonesia. Salah satunya Ia yakin bahwa bangsa ini bisa menjadi bangsa yang besar dan maju. “Saya yakin bangsa ini akan maju jika para elitnya ikhlas dan jujur,” tuturnya. (mir)

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.