preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Tenggelamnya Kartini Muda Dalam Budaya Pop

Suatu rasa syukur karena di bulan April ini kita bisa kembali memperingati Hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2020. Hari di mana sebagai peringatan perjuangan seorang Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Kita tau Kartini hidup di zaman penjajahan serta berada dalam budaya feodal yang bersifat patriarki. Kondisi ini membuat Kartini terjegal didalam mengakses pendidikan karena konstruksi budaya waktu itu terhadap perempuan.

Ditambah dengan budaya pingit yang membuat Kartini harus diisolasi dari dunia luar sampai ada lelaki yang datang meminangnya. Yang lebih naas adalah nasib Kartini sebagai korban poligami. Kartini juga meninggal dunia dalam usia muda, tak lama pasca melahirkan.

Setidaknya ada suatu warisan luar biasa yang ditinggalkan oleh Kartini. Yakni spirit yang beliau ajarkan lewat perjuangan yang dilakukannya. Keterbatasan dan keadaan budaya tidak membuat  Kartini patah arang dalam belajar. Kartini merubah permasalahan dan keterbatasan menjadi pembelajaran yang menghasilkan perjuangan.

Pembacaan realitas dan apa yang menimpanya membuat Kartini belajar dengan keras untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Selain itu, Kartini tidak ingin apa yang menimpanya dirasakan oleh perempuan lainnya.

Hal ini lah yang mengonstruk perjuangan Kartini bahwa perempuan juga memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Perempuan harus mandiri melalui pembentukan karakter pembelajar dan berwawasan. Keadaan ini yang mengilhami Kartini membuka pendidikan gratis untuk memberdayakan dan mengasah keahlian perempuan.

Kartini berharap perempuan generasi di masa yang akan datang dapat mengakses pendidikan serta memiliki kesamaan hak dengan laki-laki. Dan hendaknya apa yang telah beliau perjuangkan mulai terwujud satu demi satu. Banyak perempuan yang sudah dapat mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi.

Banyak perempuan yang juga mengisi pos-pos atau peran-peran sosial yang sama dengan laki-laki. Akan tetapi, belum semua terwujud secara penuh dikarenakan masih banyak perempuan yang tidak bersekolah, melihat konstruksi budaya dan juga biaya pendidikan yang mahal. Selain itu, masih banyak perempuan yang menjadi korban ketidakadilan, seperti penganiayaan, pemerkosaan, hingga korban poligami.

Realitas ini tidak terbaca semua oleh kebanyakan kaum perempuan hari ini, di mana mereka sebagai Kartini muda yang meneruskan perjuangannya. Mereka sedang menghadapi era budaya yang mematikan karakter perempuan pejuang seperti Kartini. Para Kartini muda dewasa ini tenggelam dalam budaya populer atau yang biasa disebut budaya pop.

Budaya tersebut mengalienasi perempuan sehingga tidak mengenal jati dirinya sebagai perempuan. Budaya pop atau budaya massa dewasa ini telah mengonstruksi para Kartini muda menjadi sesuatu yang lain dari jati dirinya sebagai perempuan. Budaya pop menjadikan para perempuan tenggelam dalam glamour fashion, sehingga mereka terlalu sibuk memikirkan tentang dirinya sehingga tak mampu membaca realitas sosial di sekitarnya.

Budaya pop membuat perempuan menjadi objek eksploitasi dari fashion dan berbagai pernak-pernik budaya pop lainnya. Dalam teori sosial, perempuan disebut sebagai good looking, yaitu seluruh bagian tubuh perempuan dari ujung rambut hingga ujung kaki merupakan objek yang bagus sebagai promosi. Alhasil perempuan condong menjadi objek eksploitasi, sehingga banyak produk pernak-pernik budaya pop yang siap dikonsumsi oleh para perempuan.

Konstruksi budaya pop berlangsung melalui gaya hidup para publik figur, industri film dan musik yang banyak ditempeli simbol produk industri sebagai iklan. Tujuan dari budaya pop tak terlepas dari kepentingan industrialisasi yang berkapital tinggi, sehingga melalui yang tersebut membuat para perempuan dan masyarakat luas menjadi condong konsumtif, hedon, dan sibuk mengonsumsi simbol hingga terlena dan berakhir teralienasi dari diri sendiri.

Kondisi yang demikian memaksa masyarakat tak terkecuali para Kartini muda menjadi kehilangan arah dan pondasi berpijak sebagai jati dirinya karena terlalu sibuk mengurusi diri agar sama seperti gambaran hidup yang ditawarkan oleh budaya pop. Keadaan ini membuat kebanyakan para Kartini muda berpandangan sempit walaupun berpendidikan (secara formal).

Kartini muda hari ini tak sempat membaca secara mendalam mengenai realitas sosial terkhusus kondisi perempuan yang sedang terjadi. Hal demikian lah yang menyebabkan kebanyakan Kartini muda tumpul dalam membaca keadaan sosial sehingga kehilangan visi perjuangan. Tentunya peranan sosialnya yang strategis sebagai penerus cita-cita Kartini.

Dalam peringatan hari Kartini ini hendaknya kita bisa merefleksikan kembali spirit perjuangan dan cita-cita beliau terhadap nasib perempuan. Tentunya dengan memperkuat kesadaran untuk menghidupkan cita-cita Kartini untuk terus diperjuangkan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang sesuai dengan kemampuan masing-masing dengan permasalahan sosial yang ada.

Melalui peringatan ini, sudah saatnya kita kenali kembali jati diri kita terkhusus penanaman kesadaran perjuangan Kartini kepada siapa pun, bukan hanya perempuan. Kongkritnya, seperti yang dilakukan Kartini yakni dengan melek membaca permasalahan sosial, kemudian mempelajarinya, selanjutnya memformulasikan solusi yang kemudian diperjuangkan. Setelah ini dilakukan oleh para Kartini muda dan yang memiliki semangat perjuangan, maka semakin menyingsinglah pasca terbit yang muncul habis gelap yang merupakan cita-cita Kartini. (din)

 

Oleh: Immawan Iqbal Darmawan (Ketua Bidang Kader)

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.