preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Ojo Dolanan, yang Serius Dong

Oleh: Imm. Dimas Ilhamsyah Sabil

Sebenarnya tak bisa terpikirkan juga tak tergambarkan pola yang jelas di pikiran ini. Sejenak terlintas berbagai realitas. Mendengar pepatah tong kosong nyaring bunyinya, membuat kita teringat bahwa tak sedikit orang yang terpesona dengan kata-kata revolusi yang sebenarnya bertolak belakang dengan prakteknya. Hal tersebut benar terjadi.

Sebuah hal yang konyol, ingin dianggap dengan cara yang praktis. Pembiasan makna nilai tawar dilakukan demi secercah harapan yang sumbang bagi lainnya. Ego eksistensi diri membawa nama kelompok tentu bukan sebuah sikap yang terpuji. Sang ibu digadaikan dengan berbagai argumen yang seolah-olah pasti. Ibarat seorang Nahkoda kapal yang baru saja sampai di sebuah pulau namun tak tahu menahu destinasi selanjutnya. Atau memang pura-pura tidak tahu, supaya diberi arahan. Kemudian mengumumkan kepada penumpang tentang tujuan selanjutnya seolah dirinya yang paling tahu. Ah, lagu lama.

Nahkoda itu, tak lebih dari sebuah “Dolanan”. Bebas diarahkan kemana pun sehendak pemain. Atas nama keinginan dianggap, ia rela mengorbankan harga dirinya pada zona kebodohan. Miris namun itulah yang terjadi.

Seolah-olah hari ini susah bersikap idealis namun tak oportunis. Menentang segenap keadaan yang serba paradox dengan kritik yang membangun dan tak membelot. Kurang lebih dengan slogan “Mencintai tak harus memuji, namun mengkritik adalah bagian dari menyayangi”, bisa menjadi spirit agar tak mudah terbawa arus.

Sudahlah, jangan bermesraan demi kepentingan sendiri. Intelektual seharusnya menginisiasi dan mengawal pemikiran berkemajuan yang bukan untuk dijual atau bahkan digadaikan.

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.