preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Alam Menangis

Dalam sejarah perkembangan masyarakat, kelompok masyarakat pertama yang lahir di dunia ialah komunal primitif, dimana pada masa itu keadaan bumi masih hijau dan segar. Pada masa itu, para komunal primitif hanya mengenal berburu dan meramu. Seiring berkembangnya zaman, masyarakat mulai mengenal pakaian, serta alat yang terbuat dari bahan plastik, logam dan lain-lain.

Waktu demi waktu alam mulai beradaptasi terhadap manusia karena pada dasarnya manusia dan alam saling mempengaruhi, namun yang paling determinan adalah manusia. Manusia sebagai antroposentris dalam artian manusia sebagai pusat karena manusia memiliki peran aktif dalam kehidupan.

Sekarang terdapat perbedaan antara masyarakat pada zaman dulu dengan zaman sekarang. Di masa kini, manusia melakukan sesuatu atas kehendaknya pribadi. Pada suatu pagi, saat saya dan teman-teman sedang asyik jalan-jalan melihat pemandangan di area pesawahan. Di sana saya melihat terdapat sampah-sampah yang berserakan di kali tempat irigasi sawah, padahal itu bukanlah tempat pembuangan sampah.

Apabila kita membuang sampah di kali, maka akan menyumbat pengairan yang tidak menutup kemungkinan terjadinya banjir dalam jangka panjang. Memang satu atau dua sampah dibuang sembarangan dalam sehari tidak terasa, namun jika dihitung sehari membuang satu sampah, maka dalam satu bulan terdapat 30 sampah. Lalu dalam satu tahun tertumpuk berapa sampah?

Jumlah sampah akan terus meningkat apabila masyarakat masih melakukan hal yang sama. Permasalahan mengenai sampah merupakan hal yang sangat membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak karena untuk saat ini, sampah masih menjadi persoalan yang mendapati kegagalan dalam hal penanganannya.

Jika dilihat dari dampak yang diperoleh masyarakat, penanggulangan sampah yang tidak ditangani dengan baik akan berimbas pada menurunnya kualitas kehidupan dan rusaknya lingkungan. Potensi terjadinya banjir akan lebih besar karena sampah pada area tersebut telah menghalangi arus air sehingga terjadi penyumbatan pengairan pada pepohonan dan tanaman yang dapat menyerap air. Daerah yang tidak mendapatkan serapan air yang baik dari pepohonan, akan berdampak pada meluapnya air tersebut sehingga terjadi banjir.

Dari yang saya lihat pada pagi itu, terdapat sampah yang berbahan plastik, dimana plastik merupakan bahan yang terbuat dari minyak bumi yang dipanaskan. Hal ini mengubah molekul minyak tersebut menjadi polimer termo-plastik yang biasa digunakan untuk berbagai keperluan industri. Dikutip dari Seeker.com, proses itu terjadi melalui tempaan rantai karbon-karbon yang kuat. Rantai karbon tersebut sulit untuk dihancurkan sehingga membutuhkan energi yang besar.

Alam tidak dapat melakukan penguraian semua bahan secara alami dan cepat. Bahkan menurut geo-kimiawan organik dari Stanford University, Kenneth Peters, alam tidak pernah membuat hal semacam itu, sehingga tidak ada organisme di muka bumi yang dipersiapkan untuk menangani masalah plastik.

Penguraian sampah plastik membutuhkan waktu 20 hingga 1000 tahun untuk dapat terurai. Coba kita bayangkan, jika kita sering menumpuk sampah, akan menjadi seperti apa bumi kita? Manusia pada hakikatnya menjadi pemilik dari seluruh apa yang ada di bumi. Berdasarkan firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 30 yang menjelaskan bahwasanya tugas manusia di muka bumi ialah untuk menjaga dan mengelola apa yang ada dibumi beserta isinya. Bukan malah sebaliknya, merusaknya dan tidak mau menjaganya.

Seharusnya, manusia dapat lebih mengerti dibandingkan dengan mahluk-makhluk yang ada di bumi, karena manusia itu diberi akal untuk berpikir. Apakah harus terjadi bencana terlebih dahulu baru masyarakat mulai sadar akan perbuatannya? Masyarakat juga harus lebih peka terhadap sosialisasi yang diadakan oleh pemerintah agar lebih paham betapa bahayanya apabila alam ini rusak oleh tangan manusia.

Apabila kita ingin terhindar dari bencana, maka perlunya menumbuhkan kesadaran dan kepekaan kita terhadap perbuatan yang teelah kita lakukan. Apakah kita mau hidup dengan keadaan yang sekarang, yang masih melakukan hal-hal yang dapat mengakibatkan rusaknya alam atau mau merubah pola pikir kita kedepan untuk menjaga alam kita?

Jawaban dari semua itu berada ditangan kita semua, berani berbuat berani bertanggung jawab. (din)

 

Oleh: Immawan Moh. Junaidi Afiq Syahmi Royyan Firdaus (Kader Angkatan 2019)

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.