preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Teman dan Ilusi

 

sumber gambar: Madison.com

Oleh : Imm. Yogi Timor Ardhani*

Suara bising kendaraan, mesin pabrik, dan udara pagi penuh polusi di tengah modernisasi industri membangunkannya dari tidur lelap di gang kecil beralaskan kardus bersama dengan anak yatim piatu lainnya.

Duduk disebelahnya satu-satunya teman karibnya sejak lama dalam komplotan yatim piatu tersebut, entah sejak kapan mereka berteman dekat, yang jelas mereka memiliki banyak kesamaan

“Hari ini aku ingin sarapan kalkun bakar, apa kau mau ikut denganku,”, bisik temannya.

“Ayolah, jangan mengada ada, sarapan Kalkun? Makan sekali sehari aja udah bersukur sekali hahaha,”, jawabnya dengan nada tertawa.

Spontan semua mata tertuju padanya mendengar tertawa kerasnya tersebut, namun dihiraukannya sekitar begitu saja.

“Follow me, you’ll see,” jawab temannya.

Berjalan pelan keduanya menyisiri garis jalanan kota yang macet dan bising, dengan obrolan ringan yang mengiringi perjalanan mereka yang tak jelas kemana.

“Heyy… menurutmu kenapa kita dilahirkan seperti ini? Apakah kita akan terus menggelandang seperti ini? Aku bahkan tidak bisa mengingat wajah orang tua ku,” tanya dia sambil menatap sekolah besar disebelah kirinya.

“Entahlah, mungkin hanya kita yang kuat yang terpilih hidup dijalanan, lagipula juga aku sudah terbiasa dengan hidup seperti ini, setidaknya kita bebas melakukan apa yang kita mau,” celetuknya dengan senyuman.

“Jujur terkadang aku ingin seperti seperti mereka, bersekolah dan makan bersama keluarga,” lirihnya pelan dengan sedikit tersenyum.

“Oh, ayolah, zaman ini sekolah hanya bagi mereka yang punya harta, dengan hanya mengharapkan belas kasihan pemerintah juga percuma. Lagipula siapa juga yang butuh sekolah, apalagi keluarga yang bahkan jelas-jelas telah membuangmu,” ungkap temannya dengan nada tinggi.

“Ya yaa, aku mengerti, bahkan ketika kita bersekolahpun dengan keadaan begini kita hanya akan menjadi sasaran empuk bully an anak-anak kaya di sekolah. But what we’ll be gonna be then, stay out here being a coward? Oh god please,” jawabnya denngan serius sambil mengepakan kedua tangannya.

“Kata siapa kita coward? Kita anak mandiri yang tak butuh siapapun untuk dibebani dalam hidup kita,” jawaban temannya ini hanya bisa tersenyum, padahal dia tau temannya juga merasakan apa yang dirasakannya.

Di tengah-tengah jalanan kota yang sesak, temannya memegang tangannya erat dan mengajaknya berlari menyeberang jalan tak peduli mobil yang lalu lalang dengan cepatnya hampir menabrak mereka.

“Heeyy lihat-lihat kalo jalan,” teriak pengendara mobil yang terlihat terburu-buru menuju ke kantor. Namun mereka terus berlari dengan menatap sesaat orang kantoran tersebut sambil tersenyum. Masih berlari melalui gang-gang sempit, sambil sesekali menyapa orang yang tak dikenalnya sama sekali, sampai akhirnya tiba di sebuah restoran kecil yang tak jauh dari sungai besar.

“Apa yang kita lakukan disini,” tanyanya dengan nafas terengah-engah.

“Tentu saja mencari makan, memang apalagi,” jawab temannya dengan tenang sambil duduk di kursi umum depan pintu masuk restoran.

“How?,” tanyanya dengan mengangkat kedua tangannya.

”Tentu dengan cara kita, jangan pura-pura bego deh, lebih baik diam saja dan lakukan, sebelum rasa lapar ini menggerogoti perut kita,” jawab temannya sambil menepuk punggungnya pelan, mengisyaratkan untuk duduk di kursi umum sebelahnya.

Tak lama berselang lewat pria paruh baya baru saja keluar dari restoran membawa kantung keresek, spontan dia merebut dari tangan pria tersebut dengan tangan kanannya, lalu berlari dengan penuh semangat. “Yuhuuuu,” teriaknya sambil berlari melompati tong sampah diseberang jalan raya, tak peduli teriakan minta tolong dari si pemilik kantung keresek itu.

Tepat diseberang sungai besar yang airnya masih belum terlalu tercemar polusi, rerumputan yang masih cukup hijau adalah tempat mereka berbaring kecapekan penuh keringat menatap langit biru yang masih  terlihat meski tertutup oleh awan.

“Hey bangun, lihat apa yang kita dapat ?,” tanya dia.

“Nampaknyanya ini Pizza,” jawab temannya tersenyum sambil membuka isi kantung plastik hasil curian itu.

“Padahal aku membayangkan kalo itu isinya kalkun bakar,” lirihnya dengan alis terangkat dan sedikit kecewa dengan tangan memotong setengah pizza ditangannya kemudian memberikannya untuk burung-burung dekil berkeliaran yang menhampiri mereka.

“Jangan manja, habiskan saja, atau sini bagianmu aku yang habiskan,” balas temannya dengan nada bercanda.

“Kenapa kita harus mencari makan dengan cara seperti ini, terkadang aku kasihan membayangkan jika makanan ini hasil jerih payah orang tersebut untuk dibelikan pada keluarganya,” bicaranya dengan makanan penuh di mulut.

“Entahlah, aku rasa kita mencuri juga pilih-pilih, dari tangan mereka yang terlihat berpenampilan glamor dan angkuh,” jawabnya santai tanpa sadar lawan bicaranya sedang menirukan gerakan tangannya yang sedang mengoceh seperti orang bijak yang sedang memberi motivasi. Spontan tertawa lepaslah mereka berdua yang membuat burung-burung di atas pohon terbang bebas karena kaget mendengar tertawa keras yang seakan terdengar seperti suara peluru yang dilontarkan bagi sekawanan burung itu.

Senja pun mulai tiba, cuaca juga terlihat sangat mendung, burung-burung yang tadinya riuh di langit, kini senyap di telan angin kencang. Tanpa pikir panjang, mereka pun bergegas untuk kembali ke gang kecil rumah tinggal mereka, namun hujan terlalu lebat sehingga memaksa mereka harus bersinggah di bangunan kosong tersebut.

Tak terduga tiga orang preman yang siapapun bisa melihat jelas mereka dalam keadaan mabuk, Menghampiri dan meminta uang karena memasuki daerah teritorial mereka (bangunan kosong) tersebut, awalnya mereka tak berniat kasar, namun karena anak ini berontak akhirnya dipukulilah mereka sampai pingsan tak sadarkan diri.

Terbangun dengan banyak luka dan sakit disekujur tubuh dikeheningan pagi dibangunan kosong itu, hanya temannya lah yang ada dibayangannya.

Berusaha dipaksanya mata yang berat untuk terbuka melihat sekitar, namun tak tampak temannya dimanapun, dia mulai menangis dan berteriak memanggil tapi hanya pantulan suaranya saja yang terdengar dalam ruangan kosong itu.

Berlari tanpa sadar air mata memenuhi wajahnya melewati jalan dan gang sambil berteriak memanggil-manggil seperti orang tak waras, tak diperdulikan orang sekitarnya. Bertanya kepada pak polisi, kepada pejalan kaki, namun tak satupun mengenal sosok temannya tersebut.

Masih terisak tangis selama setengah hari mencari namun tak kunjung ketemu akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke gang tempat tinggalnya dan berharap temannya telah kembali. Bertanyalah dia kepada salah seorang anak di gang itu

“Hey apakah kau melihat temanku?,” tanyanya pelan.

“Maaf yang mana, aku bahkan tidak mengetahui kau memiliki seorang teman selama ini,” jawab anak tersebut sinis.

“Apa katamu, dia yang selalu bersamaku, dia bahkan sekalipun tak pernah meninggalkanku,” teriaknya jengkel dan mendorong anak itu sampai terpental ditembok, dan mulai dipukulinya.

Kegaduhan tak berlangsung lama karena dalam sekejap anak-anak berkumpul dan berusaha menderai perkelahian itu. Beberapa diantaranya memukuli wajahnya yang belum sembuh dari luka lebam akibat dipukuli preman sebelumnya, namun tak dihiraukannya rasa sakit karena dibayangannya hanya sahabatnya saja.

“Dasar kau anak gila, sejak awal kau selalu sendiri dan berbicara pada dirimu sendiri, dari dulu seharusnya kami lakukan ini padamu, enyahlah kau jangan kembali lagi bersama kami di komplotan ini,” teriak salah seorang anak padanyanya.

Dia merasa shock sampai pikirannya kacau mendengar kata kata itu, ditendang bak sampah didekatnya dan dia berlari tanpa arah dengan wajah sesekali menghadap ke langit, kondisi jalanan ramai dan cerah, terasa sunyi dan gelap baginya.

Sampai dia tak sadar tiba di sungai tempatnya terakhir bercengkrama dengan temannya, tangis dan keringat bercampur menjadi satu. Dilihatnya langit seakan-akan hanya langit yang mampu mengerti keadaannya sekarang. Hanya langit yang bisa menenangkan suasana hatinya yang kacau bahkan hancur lebur.

Seakan mendapatkan bisikan dari langit melalui perantara angin, diapun tersadar bahwa selama ini orang yang disebutnya teman dekat tersebut tidak pernah ada, itu hanyalah hasil konstruk berfikirnya dari rasa kesepiannya yang tak berujung, dia baru menyadari bahwa dia sendiripun tak tau nama teman dekatnya tersebut, bahkan dia sendiri pun tidak mengetahui nama dirinya sendiri, bahkan identitas aslinya, dari mana dirinya berasal, dan kenapa dia bisa berada di tengah-tengah kota industri yang terasa seperti neraka baginya.

Selama ini dia merasa aneh kepada orang sekelilingnya karena merasa setiap kali mengobrol dengan temannya (teman imajinasinya), maka semua mata akan tertuju padanya, sesekali mereka terdiam, namun terkadang juga sambil berbisik dengan orang disebelahnya. Itulah sebabnya dia selalu mengisolasikan diri dengan teman imajinasi yang dianggap nyata tersebut.

Entah apa yang salah dari dirinya, gumamnya dalam hati, apakah selama ini dia adalah orang gila, atau teman dekatnya tersebut memang datang dari dunia yang berbeda dengannya yang sengaja diturunkan tuhan sebagai sahabat terbaiknya.

Sekarang yang dia rasakan hanyalah sepi, tak seorangpun berada disisinya dan mengerti keadaannya, hanya langit, ya hanya langit yang mengerti situasinya, yang selalu menatap tajam kearahnya dan selalu bisa menemukannya dimanapun dia berada, tak peduli ketika terang maupun gelap menghampirinya.

*Yogi Timor Ardhani adalah Kader IMM Renaissance angkatan 2016. Mahasiswa jurusan Ilmu Hubungan Internasional ini sedang menjabat sebagai staff bidang Media dan Komunikasi IMM Renaissance FISIP UMM.

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.