preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Pesona Yang Hilang

 

Sumber: Bidang Medkom

Jangan kau mengharap apa-apa di IMM. Tapi seberapa besar dan apa yang bisa kau berikan kepada IMM?

Sekilas yang tampak, pernyataan seperti ini seringkali kita dengar. Utamanya bagi kader yang telah menghibahkan diri menjadi bagian dari organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Bagi calon kader atau kader baru yang terlibat dengan IMM, ungkapan seperti itu akan menjadi bumerang dan meruntuhkan akan magnet IMM sebagai organisasi kader yang ideologis. Jika masih ideologi bukan pragmatis dan reduktif.

Beberapa minggu yang lalu, teman bertengkar saya dan guru saya, Moh. Ilham, ketika di komisariat menulis di Facebook sebagai bentuk kecintaan sekaligus keprihatinan jika melihat kondisi kader dan komisariat saat ini. Ragam tanggapan dari teman-teman tidak bisa dielakkan, tergantung dari sudut pandang ia melihat kondisi riil komisariat saat ini.

Tetapi yang pasti, IMM sebagai organisasi persyarikatan dan organisasi ideologi harus mampu merawat dan memelihara eksistensi organisasi ini.

Barangkali sudah mafhum, tiga pilar gerakan dan matra gerakan sebagai jangkar dan ideologi IMM, intelektual, humanis dan religius. Dalam perjalanannya Tri Kompetensi Dasar Ikatan ini tidak luput dari aneka tafsir terhadap masing-masing pilar tersebut. Baik intelektual, ukuran yang tidak baku mengenai intelektual ini seringkali menjadi alibi dan sikap apologetik bagi beberapa kader IMM.

Misalnya, apakah iya intelektual diukur dengan Indeks Prestasi? Sekilas saya ketika berdebat mengenai ukuran ini memang tidak menemukan formula yang baku mengenai intelektual, tetapi sebagai mahasiswa, apa yang paling memungkinkan mengukur kadar intelektual seorang kader, apalagi kontribusi pemikiran dan karya intelektual itu tidak nyata.

Sudah IP nya jelek, tidak pernah menulis di media, tidak pernah ikut Lomba Karya tulis Mahasiswa, lantas dari mana kita akan mengukur kadar intelektual kader jika ada kader yang hanya mengandalkan intelektual verbalis. Apalagi seolah-olah intelek. Saran saya jangan dijadikan contoh.

Ada juga yang menafsirkan bahwa intelektual, humanis dan religius itu sesuatu yang tidak integral. Bagi pemahaman saya, intelektual, humanis dan religius itu sesuatu yang saling terkait. IQ, EQ dan SQ dalam bahasa yang lain.

Kurang sempurna kadar intelektual seorang kader sementara miskin empati dan simpati akan kepedulian. Begitu juga jika ada kader yang kerjaannya puasa terus, tahajud terus tetapi tidak pernah peduli sama orang lain. Dalam waktu yang sama, secara substantif menggambarkan akan keringnya spiritual itu.

Sebagaimana hasil penelitian Saiful Mujani, bahwa soleh secara vertikal tidak berkelindan dengan soleh sosial. Sebagai sebuah harapan besar dan cita-cita maka keterpaduan itu tidak bisa kita bantah, apakah ada seorang kader yang mengakomodasi dan menjalankan Tri Kompetensi Dasar itu. Rasanya 99,5% tidak ada.

Saya sangat apresiatif dengan gagasannya Abdul Munir Mulkhan, bahwa tidak ada orang Islam itu. Yang ada adalah proses menjadi Islam. Oleh karena itu IMM itu sebagai medium, sebagai instrumen dasar terjadinya proses pemikiran, proses empati, dan proses yang tidak baik menjadi baik.

Yang menjadi persoalan mendasar adalah bahwa IMM, terkhusus komisariat, tidak lagi dijadikan instrumen terjadinya dialektika pemikiran itu. Salah satu bukti nyata adalah ketika ada salah satu kader bahkan pengurus inti komisariat masih gagap dengan teori-teori perubahan sosial, teori konflik maupun struktur fungsional, sosiologi klasik maupun modern, dari mazhab yang positivistic dan kritis.

Jika ini yang terjadi, maka IMM akan kehilangan aura dan pesonanya. Dan pada gilirannya akan ditinggalkan. Jika mau pintar dan baik, maka jangan ikut IMM.

Kiranya, saya tidak berlebihan. Karena momentum dan ruang waktu yang berbeda. Ketika kita yang mengikrarkan diri sebagai aktivis organisasi, maka mandat yang dipikul adalah bahwa kita adalah mahasiswa yang memiliki kelebihan dari yang lain.

Baik dari sisi intelektualnya, wawasannya, keperluannya. Penilaian ini hadir tidak sekadar dari kalangan mahasiswa, tetapi dari kalangan dosen juga memiliki penilaian yang kurang lebih sama. Hal ini terjadi karena kita memiliki modal, yang melebihi dari mahasiswa yang biasa-biasa itu. Hal ini yang saya rasakan tidak sekadar di UMM dan internal IMM, tetapi diluar UMM dan IMM juga.

Lantas bagaimana jika aktivisnya sudah tidak memiliki kadar intelektual yang melebihi daripada mahasiswa yang tidak ikut organisasi? Apakah kita akan menjadi rujukan bagi minimal bagi teman-teman yang ada di kelas?

Tragisnya adalah kita terjebak dengan apa yang dikhawatirkan oleh Mansour Fakih sebagai buruh organisasi. Aktivis IMM tidak tahu ideologi IMM, aktivis IMM bingung dengan AD/ART IMM, bahkan cita-cita jangka panjang IMM.

Jika IMM tidak lagi memberikan kemaslahatan kepada publik, tetapi melahirkan dan mengembangbiakkan kemungkaran dan kemudharatan kepada publik, maka ada dua pilihan: diperbaiki atau bubarkan saja. (4 Februari 2011)

Abdus Salam, M.Si

Ketua Umum IMM Komisariat Renaissance FISIP Periode 2003-2004
Direktur Kedai Jambu Institute

 

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

We use cookies to give you the best experience.