preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Peran Pers dalam Melangsungkan Dakwah Muhammadiyah

Sumber: suaramuhammadiyah.id

Pers ialah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi.Baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Begitulah pengertian pers yang tertuang dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Pada mulanya, pers hanya mengacu pada barang cetak seperti koran atau majalah.  Namun, kini pers telah berkembang menggunakan media elektronik seperti TV, radio dan juga internet. Berdasarkan fungsinya, pers hadir untuk memenuhi kebutuhan informasi publik, menambah pengetahuan publik serta memberikan informasi yang benar kepada publik. Informasi mana yang benar dan akan diberikan kepada publik pada akhirnya bergantung pada nilai lembaga yang menaungi. Sehingga dalam penyampaian informasi pasti akan mengacu kepada nilai tersebut.

Dalam sejarahnya, pers memiliki pengaruh yang kuat dalam mewarnai dinamika pergerakan bangsa Indonesia. Salah satu contohnya adalah Majalah Indonesia Merdeka (1924) yang diterbitkan oleh Perhimpunan Indonesia. Melalui majalah tersebut, rakyat Indonesia menyadari akan keadaan bangsa yang terjajah dan berlanjut pada semangat pergerakan untuk meraih kemerdekaan di Indonesia. Sama halnya dengan sekarang, banyak calon pejabat yang berkampanye menggunakan pers dan tak jarang pula khalayak terpengaruh dengan narasi-narasi yang dibangun.

Al Manar dan Al Urwatul Wutsqa

Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi pembaharuan Islam di Indonesia juga tidak lepas dari pengaruh pers. K.H. Ahmad Dahlan yang menunaikan haji kedua kalinya tahun 1890 mulai terbiasa dan mengenal ide-ide pembaharuan Islam melalui intelektual Muslim terkemuka seperti  Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani dan Rasyid Ridha.

Tokoh pembaharu tersebut juga menerbitkan majalah, yaitu Muhammad Abduh yang menulis majalah Al-Manar. Majalah tersebut berisi tentang ide-ide pembaharuan Islam dan banyak membahas ekualisasi pendidikan yang dapat menyebar ke negara Islam,  termasuk Indonesia. Al Manar memiliki pengaruh sangat kuat dan mulai banyak orang yang sependapat, hingga dikutip kembali oleh penerbitan yang memiliki ide pembaharuan yang sama, seperti Al-Iman, Neraca dan Tunas Melayu di Malaysia dan Al-Munir di Padang.

Ada pula Majalah Al-Urwatul Wutsqa yang ditulis oleh Jamaluddin Al-Afghani. Majalah ini berisi cita-cita Jamaluddin Al-Afghani untuk menggalang persatuan dan kesatuan umat Islam se-dunia atau dalam istilah lain disebut sebagai gerakan Pan Islamisme. Semangat inilah yang kemudian diadopsi di Indonesia untuk semangat mengusir penjajah.

Dampak dari majalah-majalah di atas membuat pemerintah Belanda ketar-ketir dan  ketakutan terhadap kaum muslim Indonesia yang mempunyai hubungan dengan pers Timur Tengah. Hingga akhirnya pemerintah Belanda menetapkan kebijakan sensor dari penerbitan yang masuk ke Hindia Belanda atas usul Snouck Hurgronje. Namun, pers terbitan dari Timur Tengah masih dapat masuk secara rahasia melalui pelabuhan kecil seperti di Tuban, Jawa Timur.

Pendirian Muhammadiyah Berawal dari Pers

K.H Ahmad Dahlan merupakan pembaca rutin majalah-majalah di atas berkat keaktifannya di organisasi Jamiat Al-Khair. Beliau juga banyak terpengaruh dengan pemikiran Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Abdul Wahhab. K.H. Ahmad Dahlan yang tinggal di Kauman dan menjabat sebagai seorang abdi dalem keraton melihat masyarakat Islam di Indonesia yang masih banyak mengamalkan takhayyul, bid’ah dan churofat serta sistem pendidikan yang masih tradisional.

Realitas saat itulah yang mendorong K.H. Ahmad Dahlan untuk turut aktif melakukan pembaharuan Islam dengan membentuk suatu organisasi sebagai alat perjuangan yang dinamai Muhammadiyah dan berdiri pada tanggal 18 November 1912. Setelah resmi berdiri, Muhammadiyah merintis penerbitan majalah Soeara Moehammadijah (ejaan lama) pada tahun 1915. Hal ini menunjukkan generasi awal Muhammadiyah menyadari pentingnya pers dalam menyukseskan gerakan dakwah. Adapun Suara Muhammadiyah pada awal berdirinya diasuh  oleh  Haji Fachrodin. H. Ahmad Dahlan, H.M. Hisjam, R.H. Djalil, M. Siradj, Soemodirdjo dan Djojosugito.

Saat itu majalah Soeara Moehammadijah memiliki slogan «organ ini memuat keterangan tentang Agama Islam, diterbitkan sebulan sekali berbetulan dengan tanggal 1 bulan Belanda dan memuat keterangan lain-lainnya yang perlu». Dengan menggunakan perbendaharaan kata bahasa Jawa dan Melayu, majalah Soeara Moehammadijah banyak mengulas terkait perkembangan Persyarikatan, situasi politik nasional dan internasional serta pesan-pesan keagamaan.

Ijtihad dan Tajdid Pers Muhammadiyah

Meskipun pada perkembangannya Suara Muhammadiyah sempat lesu ditengah perjalanan, tetapi berkat ketekunan dan keyakinan dalam memperjuangkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, Suara Muhammadiyah sampai saat ini masih tetap bertahan di bawah pengelolaan PT Syarikat Cahaya Media (AUM PP Muhammadiyah) dan masih terus melakukan produksi secara berkal. Kini Suara Muhammadiyah telah memiliki kanal website yang mudah diakses bahkan oleh orang-orang diluar kalangan Muhammadiyah.

Selain itu, terdapat pula majalah Bintang Islam yang terbit pada tahun 1923 serta majalah Panji Masyarakat yang meskipun bukan resmi milik Muhammadiyah, tetapi para penggagasnya merupakan tokoh Muhammadiyah, yakni: Buya Hamka, K.H. Faqih Usman, Yusuf Abdullah Puar dan H.M. Yusuf Ahmad. Majalah ini pertama kali terbit tahun 1959 dan banyak mengulas terkait perkembangan Muhammadiyah serta pemikiran K.H. Ahmad Dahlan

Menilik pada masa kini, semakin banyak majalah yang diproduksi Muhammadiyah seperti Majalah Suara Aisyiyah (PP Aisyiyah), Majalah Az-Zahra (Nasyiatul Aisyiyah), Majalah Matan (PWM Jawa Timur), Majalah Walida (PWA Jawa Timur), Majalah Tabligh (Majelis Tabligh PP Muhammadiyah), Majalah Kauman (DPP IMM), Majalah Kuntum (PP IPM) dan Majalah Matahati (Lazismu). Yang kesemuanya dapat pula diakses melalui internet.

Oleh karena itu, bisa kita simpulkan bahwa pers memiliki pengaruh yang hebat dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah. Tanpa perlu menghadirkan Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh secara fisik ke Indonesia, hanya melalui tulisannya saja sudah banyak memberikan pengaruh kepada Muhammadiyah. Yang mana kemudian Muhammadiyah mengembangkan dakwahnya salah satunya melalui pers. Bayangkan saja setiap level pimpinan Muhammadiyah, AUM, lembaga dan ortom memiliki pers masing-masing, maka tidak menutup kemungkinan Muhammadiyah menjadi penentu arus utama informasi di Indonesia.

 

Maulana Isro’ Abdullah Faqih

STAFF BIDANG MEDIA DAN KOMUNIKASI – IMM RENAISSANCE FISIP UMM
MAHASISWA ILMU KOMUNIKASI – UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

We use cookies to give you the best experience.