preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Menjadi Musafir di Negeri Sendiri – MEA

http://nasional.republika.co.id/

Oleh: Imm. Dimas Ilhamsyah S.*

Persaingan tenaga kerja di era Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA ) yang sejak tahun 2015 diberlakukan. Hal ini akan menjadi cambuk bagi Indonesia. Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan bersaing dalam aspek pendidikan, ekonomi, tenaga kerja, budaya dll. MEA akan menjadi sebuah integrasi dimana berbagai negara terkhusus regional Asia Tenggara meminimalisasi hambatan-hambatan di dalam kegiatan ekonomi lintas kawasan.

Dari sisi ketenagakerjaan, adanya MEA akan lebih memudahkan para pencari pekerjaan yang ingin bekerja di luar negeri. Mereka bisa memilih pekerjaan sesuai dengan keahlian masing-masing. Pun sebaliknya, negara-negara anggota ASEAN lainnya juga akan bebas memilih pekerjaan di luar negaranya. Indonesia mau tak mau juga menjadi salah satu tujuan bagi para pencari kerja. Tingkat keahlian mereka pun tidak bisa diremehkan, kita tahu bahwa rata-rata sistem pendidikan dan etos kerja yang diterapkan negara asal, seperti Singapur bisa dibilang maju.

Di tahun 2015 saja, jumlah pekerja asing menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia berjumlah 69.025 orang. Banyak dari mereka yang bekerja di bidang konstruksi ahli pembangunan, tenaga pengajar dan lainnya. Sekali lagi, hal ini tidak bisa dianggap enteng. Disisi lain, resminya MEA ini akan menjadi boomerang bagi tenaga-tenaga kerja Indonesia sendiri. Imbasnya, mayoritas tenaga kerja kita (baca: Indonesia) sendiri yang notabene belum berada ditataran ahli, pelahan-lahan akan termarjinalkan. Bila tenaga kerja kita tidak bisa beradaptasi dengan MEA, bukan tidak mungkin Indonesia akan bertambah jumlah penganggurannya. Lalu, kemanakah tenaga kerja Indonesia bekerja jika kalah saing ?

Peran pemerintah dalam hal ini harus besar sekaligus serius. Perlu diadakan berbagai pembekalan kepada seluruh usia produktif. Kita tahu, beberapa tahun kedepan Indonesia akan mendapatkan bonus demografi, dimana penduduk dengan usia produktif lebih banyak jumlahnya. Indonesia masih punya harapan untuk mempersiapkan diri walaupun seharusnya kita sudah take off.

Selain itu Pemerintah harus memperbaiki sistem pendidikan. Jika ingin berkualitas sumberdaya manusianya, maka pendidikanlah hal utama yang perlu dibenahi. Jika Pemerintah tidak cepat melakukan pembenahan, bukan tidak mungkin bangsa kita akan tertinggal jauh dan akan menjadi musafir di negerinya sendiri.

*Dimas adalah kader IMM Renaissance angkatan tahun 2016. Saat ini ia sedang mengemban amanah sebagai Staff Bidang Keilmuan periode 2017-2018.

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.