preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Menggagas Gerakan ‘Jihad Digital’ Ikatan

Immawan Ade Chandra Sutrisna saat menjadi pemateri Upgrading Badan Pimpinan Harian IMM Renaissance (23/9). (mir)

Oleh Imm. Ade Chandra Sutrisna*

PEMANFAATAN media sebagai strategi syiar di Persyarikatan Muhammadiyah dinilai belum begitu mapan, jika dibanding (kalau boleh membandingkan) praktik yang dilakukan saudara-saudara kita di Nahdliyin atau organisasi masyarakat berbasis keagamaan lainnya. Tolong sebutkan, media mana yang benar-benar bisa merepresentasikan wajah Persyarikatan seutuhnya? Penulis kira belum ada.

Sebagai salah satu kasus, begitu banyak portal daring yang mengidentifikasikan dirinya sebagai media milik, atau setidaknya lahir dari rahim kader-kader Persyarikatan. Ada muhammadiyah.or.id, suaramuhammadiyah.idkhittah.co, atausangpencerah.com barangkali, menara62.com, masih banyak lainnya. Namun demikian, dari sekian daftar nama-nama media di atas, belum ada yang mampu, atau dalam artian lain belum banyak dijadikan referensi primer bagi para anggota atau simpatisannya sebagai bahan penyikapan terhadap suatu isu.

Alih-alih dijadikan sebagai perpanjangan mulut Persyarikatan, media yang ada justru saling bertolak belakang atas penyikapannya terhadap suatu isu. Tidak ada narasi tunggal yang terorganisir dengan baik sebagai upaya penciteraan positif wajah Persyarikatan, setidaknya secara keorganisasian. Parahnya lagi, sesama media yang mengidentifikasi dirinya sebagai milik Persyarikatan itu justru saling menjatuhkan satu sama lain. Dalam beberapa kasus pernah, bahkan lebih sering menjatuhkan warwah Persyarikatan.

Kita patut beryukur, di Jawa Timur sendiri kita punya PWMU.co yang sedikit banyak mengobati kegregetan kita pada praktik kebermediaan Persyarikatan sendiri. Positioning PWMU.co sebagai portal dakwah Islam dan rujukan Media Islam Indonesia patut diacungi jempol. Meski begitu penulis menilai, media komunitas bentukan Lembaga Komunikasi dan Informasi (LIK) Pimpinan Muhammadiyah Jawa Timur ini cenderung bermain cari aman.

Bagaimana di Ikatan?

Secara umum, fungsi ideal syiar media yang diharapkan juga belum mewujud di salah satu organisasi otonom ini. Sependek pengetahuan penulis, di tiap level pimpinan (komisariat, cabang, daerah hingga pusat), belum ada gagasan terkonsep guna mendukung syiar melalui media. Panduan khusus terkait gerakan media dan komunikasi IMM juga belum pernah saya temukan.

Dari sekian grup lini massa seperti WhatsApp bentukan Dewan Pimpinan Pusat (Medkom IMM se-Indonesia), maupun inisiasi sejumlah kader untuk mengumpulkan penggerak IMM se-Indonesia (grup Aktivis IMM se-Indonesia), amat jarang membagikan tautan langsung yang merujuk pada media-media internal bentukan IMM sendiri. Malahan, sumber-sumber yang dibagikan adalah media abal-abal yang tidak jelas kredibiltas dan verifikasinya.

Jihad Digital?

Istilah Jihad Digital bukanlah hal yang baru. Meminjam narasi besar LIK PWM Jawa Timur, Jihad Digital memiliki maksud memanfaatkan aneka situs jejaring sosial, utamanya Facebook dan Twitter, sebagai sarana dakwah, jalan jihad atau berjuang di jalan agama. Jihad digital, utamanya, dapat dilakukan dengan menulis. Sudah jamak kita saksikan berbagai tulisan yang diunggah di sosmed. Mulai dari yang bermuatan hikmah hingga yang berbau sampah. Jihad digital berarti menyediakan tulisan-tulisan yang mencerahkan dan mencerdaskan.

(Lebih jauh tentang Jihad Digital, buka tautan: https://www.pwmu.co/tag/jihad-digital/)

IMM juga sepatutnya meniru langkah serupa. Bukan maksudnya membatasi inovasi, namun sepatutnyalah grand design itu juga bisa didiseminasikan ke IMM, bahkan ortom lain. Atau bahkan dijadikan panduan umum bagi media-media terafiliasi media Persyarikatan. Lagian gagasan ini lahir dari kalangan sendiri, kan? Ndak usah gengsi, tho! Artinya jangan sampai istilah “Muhammadiyah maju sendiri-sendiri, bukan bersama” adalah mimpi buruk yang jadi kenyataan.

Tapi nampaknya jika kondisinya seperti ini, sebelum kita jauh ekspan ke dunia media digital, barangkali kita butuh banyak belajar dulu terkait pemahaman dasar media dan komunikasi. Karena penentuan ‘senjata’ apa yang akan kita pakai, harus disesuaikan dengan ‘sasaran’ mana yang akan kita tuju. Insya Allah dibahas di seri tulisan berikutnya.

Gagasannya di mana?

Melalui tulisan ini penulis bukan hendak menawarkan gagasan, apalagi bermaksud menyerang pihak tertentu. Penulis hanya hendak mengajak pembaca untuk merasakan kegelisahan yang juga penulis rasakan. Gerakan media dan komunikasi bukan sebatas dipahami agar Ikatan bisa dikenal dan diketahui eksistensinya. Lebih daripada itu, pengoptimalan gerakan media lewat berbagai konsep dan implementasinya nanti (Jihad Digital, misalnya) bisa dijadikan wadah dipasarkannya gagasan-gagasan kader (ideas market place). Melalui implementasi konkrit gerakan media dan komunikasi nantinyalah yang kemudian bisa dijadikan perangkat ukur, sejauh mana tingkat literasi kader-kader Ikatan. Bukan begitu?

*Kader PK IMM “Renaissance” FISIP UMM dan penggerak media berjaringan MediaMahasiswa.com

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.