preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Bencana Komunikasi Politik

Oleh: Muhammad Ardi Firdiansyah*

Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dalam politik, pada dasarnya manusia adalah makhluk yang telah berpolitik sejak lahir, begitupun kita sebagai masyarakat Indonesia. Akhir-akhir ini komunikasi politik begitu kuat yang dilakukan oleh para politisi ditengah-tengah bencana yang ada di Sulawesi Tengah dan Lombok, banyak yang memanfaatkan media untuk melakukan komunikasi politik agar menarik perhatian dari masyrakat.

Komunikasi yang dilakukan oleh kedua kubu kearah yang tidak baik dapat menimbulkan konflik di tengah masyarakat, dimana pesan-pesan yang disampaikan oleh para politisi banyak yang saling menjatuhkan serta saling mencari kesalahan antara satu dengan lain. Di kubu petahana ( Jokowi_MA ) sering didengar banyak menyampaikan bahwah kubu oposisi ( Prabowo_Sandi) memecah bela umat dengan membuat berita-berita yang tidak benar ( Hoax), begitupun sebaliknya di kubu oposisi dalam penyampaikan pesan komunikasi politiknya dengan narasi-narasi yang menjatuhkan kubu petahana ( pemerintah gagal membangun perekonomian Indonesia, anti aseng serta PKI ).

Pesan-pesan yang disampaikan oleh kedua kubu tersebut sangatlah berbahaya bagi kehidupan masyarakat, para penerima  pesan (masing-masing pendukung kubu) pendukung kedua kubu tersebut saling membenarkan serta membela pasangan yang mereka dukung, maka akan menimbulkan konflik di tengah masyarakat. Hal ini sangatlah disesalkan, dimana pada saat ini sedang terjadi bencana yang begitu besar yang berada di dua propinsi yang terjadi hampir bersamaan.

Apakah hal ini bagian dari strategi politik kedua kubu atau tidak ? masyarakat tidak peduli dengan hal itu, yang menjadi masalah utama adalah dampak dari pesan-pesan komunikasi politik yang dilakukan oleh kedua kubu tersebut, sehingga menyebabkan masyarakat kurang memperhatikan bagaimana kondisi atau keadaan saudara-saudara kita yang terkena bencana. Bencana yang terjadi di Sulawesi Tengah dan Lombok bukan satu-satunya bencana yang terjadi di Indonesia, masih banyak bencana-bencana yang tidak disampaikan oleh media, baik itu bencana alam maupun bencana sosial.

Bencana alam pada hari Kamis dini hari kembali mengguncang pulau yang paling besar penduduknya di Indonesia, yaitu pulau Jawa, masyarakat tidak tahu pesan apa dan untuk siapa bencana ini ditujukkan, ketikan bencana sedang melanda seharusnya para elit bersatu untuk membangun kembali daerah-daerah yang terkena bencana, bukan hanya daerah yang harus benar-benar di bangun, namun psikologi masyarakat yang terkena dampak bencana tersebut harus benar-benar dipulihkan.

Pesan politik yang disampaikan oleh para politisi di negeri ini dibalas oleh Tuhan melalui pesan bencana yang terjadi, ketika para politisi semakin gencar menyampaikan pesan-pesan politiknya maka Tuhan semakin kuat juga menyampaikan pesan-pesannya kepada masyarakat. Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi kita semua, apa sebenarnya tujuan pesan yang disampaikan Tuhan kepada kita semua? Marilah kita semua menginstropeksi diri kita, kesalahan apa yang kita perbuat hari ini , sehingga Tuhan menegur kita dengan bencana ini, kepada para politisi yang saat ini sedang merancang strategi politiknya, agar sejenak melupakan itu dan mari kita fokus dan saling bahu-membahu membantu saudara-saudara kita yang terkena bencana.

Menjelang pemilihan Presiden dan Wakil presiden, pemilihan legislatif atau yang kita sering dengar Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, komunikasi yang dilakukan oleh para politisi sangat begitu kuat, oleh karena itu marilah kita sebagai warga negara yang baik, jangan sampai kita terpecah belah oleh pesan-pesan yang seperti itu, marilah kita mulai berpikir bagimana Indonesia bisa maju, bukan kita memperdebatkan siapa yang akan pantas memimpin negeri kita tercinta ini.

Pada saat bencana yang menimpah Indonesia sekarang, masyarakat tidak butuh siapa yang benar dan siapa yang salah dalam bencana ini, yang masyarakat butuhkan adalah bagaimana seluruh unsur politisi, masyarakat umum saling bahu-membahu membangun Indonesia yang lebih maju lagi, serta masyarakat yang terkena bencana bisa merasakan kembali kebahagiannya yang dulu ada. Hari ini kita benar-benar diuji dalam menjalankan nilai dari sila ke 3 yaitu “ Persatuan Indonesia” demi kemajuan negeri kita.

*Muhammad Ardi Firdiansyah adalah  kader IMM Renaissance FISIP DAD 2017. Saat ini ia sedang mengemban amanah sebagi staff Bidang Kader. Kader yang gemar membaca buku politik dan sejarah satu ini, sedang menempuh jenjang pendidikan S1 di Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang. 

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.