preloader
Get In Touch
541 Melville Ave, Palo Alto, CA 94301,
ask@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.705.5448
Work Inquiries
work@ohio.clbthemes.com
Ph: +1.831.306.6725

Muyskom Renaissance; Dari Lempar Meja Hingga Adu Fisik

Oleh: Agus Rahmat*

Selamat kepada Immawan Rio Andhika sebagai Ketua Umum IMM Renaissance FISIP periode 2018-2019…

Ucapan itu tertuang di dalam grup WA alumni Renaissance. Sebuah nama kebanggaan yang mengapit ‘IMM’ dan FISIP Universitas Muhammadiyah Malang. Diambil dari semangat lahirnya era pencerahan kala itu.

Musykom atau Musyawarah Komisariat, adalah forum tertinggi dalam organisasi IMM untuk tingkat komisariat atau fakultas. Di tingkat pimpinan cabang (kabupaten/kota) ada musyawarah cabang, tingkat daerah (provinsi) ada musyawarah daerah, dan paling tertinggi adalah muktamar (level pusat).

Musykom Renaissance, tampak penuh kekeluargaan, di sebuah ruangan dan berlangsung lesehan. Setidaknya itu klaim sepihak saya, yang hanya bisa dilihat dari foto dan video yang beredar (belum viral tapi hehehe).

Kelelahan beraktivitas seharian di Ibukota, membuat ingatan akan masa-masa masih di IMM Renaissance FISIP beberapa tahun silam, timbul tenggelam. Diingat-ingat lagi, dirajuk lagi ingatan-ingatan itu. Hingga tergambar, bagaimana dulu saat ikut musykom Renaissance.

Sedikit perkenalan, saya masuk jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UMM tahun 2003 (Pesmaba 2003). Memilih jurusan itu, karena menghindari pelajaran atau matakuliah hitung-hitungan. Hingga akhirnya, diterimalah di jurusan yang awalnya buta akan jadi apa ke depannya.

Awal-awal perkuliahan, melihat ada stand IMM di dekat tangga lantai 6. Maklum saat itu belum ada lift. Karena yang menunggu stand adalah kakak pendamping pesmaba, maka dengan terpaksa mendaftar ikut Darul Arqom Dasar (DAD).

Singkat cerita, tibalah waktunya ikut pengkaderan pertama di IMM itu. Saat itu, lokasi DAD Renaissance di Balai Peternakan Tlekung Batu. Rasanya tidak sia-sia. Banyak kisah di sana. Dari ilmu, teman, dan tentu kejadian-kejadian lucu. Seperti ada yang tertidur waktu materi sehingga saat dibangunkan berurai air liurnya. Tidak perlu tahu nama senior ini, nanti mati kutu dia hahaha… Ada juga yang sampai terkunci di dalam toilet.

Hingga usai DAD dan kami resmi menjadi kader IMM (setelah prosesi cium bendera), mulailah memasuki perkuliahan seperti biasa. Beberapa kali rapat di komisariat, yang dulu di Jetis, kami ikuti. Lama kelamaan, ada perasaan kalau kader-kader seperti saya dan beberapa teman lain tidak mendapat perhatian. Sebenarnya ini masalah klasik, yang tiap tahun terjadi. Namun saat itu, saya memutuskan tidak mau lagi ke komisariat.

Jelang musykom 2002-2003, saat itu kepemimpinan Ketum kanda Abdus Salam. Saya malah ditunjuk sebagai ketua panitianya. Apa bisa saya? Saya belum pernah ikut musykom? Gerutuku dalam hati. Namun dengan terpaksa, diambil juga tugas itu. Toh yang banyak mengerjakan senior-senior juga.

Pembukaan berlangsung lancar. Sidang-sidang tatib hingga pemilihan pimpinan sidang juga berlangsung asyik. Biasanya, pembukaan musykom Renaissance itu hari Jumat siang. Sehingga segala persiapan sudah beres, dari tatib sidang hingga pimpinan sidang, sebelum magrib atau isya.

Setelah isya, agenda satu-satunya adalah laporan pertanggung jawaban atau LPJ dari kepengurusan. Untuk acara ini, tidak ditentukan sampai kapan. Biasanya, LPJ adalah agenda terakhir untuk hari Jumat, baru agenda selanjutnya pada Sabtu keesokan harinya.

LPJ saat itu, dimulai dari laporan dari masing-masing ketua bidang atau kabid, ketum dan bendahara umum. Semakin malam, semakin banyak kader yang datang. Tidak hanya kader Renaissance, tetapi dari komisariat lain yang lazimnya selalu menyambangi ketika ada agenda seperti ini.

Hingga masuklah sesi tanya-jawab. Dari sini, suasan mulai panas. Pertanyaan-pertanyaan monohok mulai dilancarkan oleh kader-kader senior kepada kepengurusan yang duduk di depan.

“Ini bidang organisasi, kerjanya apa sih sampai anda….,” dengan bahasa-bahasa yang tanpa tedeng aling, menyerang.

“Anda juga kan salah satu staf di bidang itu, harusnya anda juga bekerja…,” seorang kabid melawan, sembari berdiri dari kursinya.

Senior yang bertanya tadi, tidak terima dengan sikap salah satu kabid. Mungkin menurutnya ia ditantang, karena kabid itu berdiri. Ia pun akhirnya terpancing, berdebat dan saling mendekat. Suasana semakin panas. Dan benar saja, ada seperti gerakan hendak beradu fisik.

Para pengurus yang duduk di depan, langsung menahan salah satu kabid itu. Begitu pun senior-senior lain di depan, turut menahan yang bertanya tadi. Tangis tidak bisa dielakkan lagi, terutama para immawati.

Memasuki tengah malam, tensi semakin tinggi. Kritik-kritik ala Renaissance keluar. Ada yang dengan tutur bahasa yang sangat baik, sehingga kritik itu dijawab dengan argument-argumen yang bagus juga. Tapi tidak jarang, ada yang mempersoalkan sikap dan persoalan yang memancing emosi juga.

Tengah malam, suasana panas, tangis dimana-mana, hingga akhirnya keluar kata-kata pamungkas dari senior yang pernah menjadi pengurus.

“Sekarang saya tantang kalian semua. Siapa yang berani maju sebagai ketua umum…”

“Saya orangnya!! Saya berani,” tangis seorang kabid. Terlihat bagaimana militansinya dia, walau ada yang menilai kerjanya sangat kurang. Tapi kata-kata itu, seolah membakar semangat, membakar ghiroh ke-IMM-an kader-kader Renaissance untuk berbuat lebih dan lebih baik lagi ke depannya.

Yang saya dengar cerita dari senior-senior, salah satu penyakit di Renaissance sejak dulu adalah tidak mau menjadi ketua umum.

source: instagram.com/agusmbojo

Memasuki kepengurusan 2004-2005, saya sebenarnya tidak aktif di komisariat. Keaktifan saya baru muncul, setelah tulisan opini di muat di Malang Post. Hingga mulai ‘dikenal’ di komisariat, dan apalagi sering diajak diskusi politik di Renaissance Political Research and Studies (RePORT). Kajiannya manjur, hingga kami bisa menghiasi kolom opini di media lokal hingga nasional.

Musykom 2005 untuk kepengurusan periode 2004-2005, digelar di Al-Furqon Batu. Lokasi ini menjadi favorit lantaran sangat murah (malah gratis). Saat itu, saya setidaknya sudah familiar dengan lingkungan komisariat. Karena akhir-akhir periode itu juga, saya mulai aktif dan sering tidur himpit-himpitan di komisariat 15C Tlogomas. Komisariatnya kecil, tapi yang tidur banyak. Sehingga, kadang kita tidur di samping motor, dengan aroma oli dan bensin.

Jelang LPJ pada Jumat itu, saya dan seorang kader duduk di bagian pinggir depan. Hampir tidak ada jarak dengan para pengurus yang duduk dan LPJ. Hanya sebuah meja sebagai pembatasnya. Di meja itu juga, tersaji dua teko berisi kopi dan teh, yang saat dibawa masuk masih sangat panas. Enak mengisi kehangatan kala udara dingin Batu yang masuk tiba-tiba di sela-sela jendela ruangan LPJ berlangsung.

Saat itu ketua umumnya kanda Tri Sulihanto Putra atau akrab disapa mas Aan. Jelang musykom memang banyak selintingan informasi saat itu, yang menilai kepengurusan kurang maksimal. Sehingga momentum penghakimannya adalah ketika LPJ.

Benar saja. Saat tanya jawab, tidak hanya laporan-laporan dari ketua umum sampai bidang-bidang yang disorot, tetapi juga kondisi komisariat, kondisi organisasi dan kondisi kader menjadi bahan untuk menyerang kepengurusan.

Tensi mulai panas. Mas Aan sudah terlihat memerah, menangis. Nada-nada tinggi mulai tidak terkendali. Serangan-serangan terhadap kepengurusan yang LPJ di depan, bertubi-tubi. Kritik-kritik dari para kader senior semakin massif, sementara kepengurusan nampak terpojok.

“Akhhhhh,” meja diangkat dan terbalik. Meja yang tepat di depan saya, yang masih ada dua teko isi teh dan kopi, tumpah ke badang kami. Saya langsung berdiri, bukan karena ingin menghindar tetapi ingin memukul salah satu kabid yang melakukan aksi itu.

Utung saja teh dan kopinya sudah dingin, kalau tidak…gertuku sambil tak habis pikir dengan tingkah itu. Suasan musykom semakin panas, tensi semakin tinggi, nada-nada kritik juga ikut meninggi, bersamaan dengan itu tangis pun tak terelakkan.

“Saya yang bersalah, saya yang bertanggungjawab,” mas Aan sambil berdiri dan menangis, mengakui segala kelemahannya selama memimpin Renaissance. Para pengurusnya, terutama yang immawati pun tak kuasa menahan tangis.

Endingnya seperti apa? Setelah semua selesai, semua maju berpelukan dan menangis. Senior yang tadinya bersuara lantang dan mengkritik tajam bahkan hampir adu fisik, bersalaman dan berpelukan dengan pengurus, dengan ketua umum.

Di luar, kembali normal. Pertemanan dan tali ikatan adalah segalanya. Walau di LPJ saling serang, saling kritik dan bahkan berdebat hebat, tetapi di luar itu adalah saudara. Renaissance sudah terbiasa dengan kritik keras dan pedas seperti itu.

Pasca itu, memang musykom-musykom Renaissance tidak segahar itu lagi. Tidak ada aksi-aksi yang mengarah pada adu fisik, tidak ada lagi lempar meja, meski daya kritis itu tetap tersalurkan saat musykom.

source instagram.com/agusmbojo

Sehingga, melihat Musykom periode 2017-2018 yang adem seperti itu, kenangan saya kembali ke masa-masa itu. Mungkin itu masa saya, masa kami. Tidak perlu disamakan dengan masa yang sekarang. Karena setiap zaman punya cerita masing-masing, punya ciri masing-masing.

Tidak ada yang salah. Yang salah hanya yang tidak mau belajar, tidak ingin membuat kisahnya untuk masa depan saja. Renaissance bagi saya, bukan sekedar cerita kenangan itu. Tetapi idialisme, belajar arti perjuangan dan keberanian. Tanpa itu semua, apalah arti Renaissance.

Semoga kita benar-benar bisa berlomba-lomba dalam kebajikan.
Billahi fii sabilil haq fastabiqul khairat

*Agus Rahmat adalah Mantan Ketua Umum IMM Renaissance. Saat ini sedang menjalani profesi sebagai wartawan istana Republik Indonesia.

Author avatar
IMM Renaissance

Post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

We use cookies to give you the best experience.